Wednesday, July 6, 2011

Lain Ladang, Lain Belalang



 
Kedua gambar diambil di lantai 2 di sebuah warnet di daerah serpong, hampir dekat Gading Serpong (Summarecon/Paramount Serpong)



Foto-foto di atas adalah foto-foto gerombolan anak kecil yang sedang main internet, baik lagi main game online maupun fesbukan. Gila juga yah?? Anak-anak jaman sekarang mainannya sudah mengenal peradaban tingkat tinggi. Padahal dulu saya, yah paling main gundu, layangan, gambaran, gasing, roller blade, sepakbola, kasti, dll, dsb. Ada yang ingat permainan-permainan tempo dulu??

Tapi kini, mereka (anak-anak jaman sekarang) mainannya Facebook, Point Blank, Dota, Warcraft, Poker, Ninja Saga, Ce-Es, hingga AyoDance. Ckckckck!!!!! Jadi ngiri nih!!!!

Tapi kalau dipikir secara masak-masak, wajar juga sih! Jaman dulu, waktu saya masih bocah ingusan kelas satu es-de hingga enam es-de, yang namanya warnet tidaklah sebanyak sekarang. Apalagi dengan tarif Rp 3000 atau Rp 4000 per jam. Jangankan warnet, wong komputer dan lap top saja masih barang kebutuhan tersier. Bukan kebutuhan sekunder seperti sekarang ini.

Ada bagusnya juga sih mengenal teknologi itu. Tapi sayangnya saya melihat lebih banyak mudaratnya anak-anak tersebut menggunakan internet. Apalagi tanpa pengawasan orangtua serta masih jarang dan langkanya perangkat pemblokir situs-situs tak diinginkan.

Aku juga terkadang heran dengan anak-anak yang punya account di Facebook. Bayangkan! Setahuku, Facebook hanya boleh dimiliki akun pribadinya oleh orang-orang berusia 16 tahun ke atas (Bener ga?). Tapi anak es-de yang masih bau kencur saja bisa mempunyainya dengan nama-nama akun yang rada nyentrik. Contohnya, pernah kulihat anak kecil buka Facebooknya dengan nama akunnya, Hanif Nax Changcutranger>. jadi kepengen ketawa saya membacanya.

Bagaimana caranya coba? Apalagi mereka juga fesbukan hanya untuk main gamenya, terutama poker yang penuh unsur judinya. Ckckckckck!

Masak generasi penerus bangsa dicekoki dengan hal-hal yang berbau judi. Kalau begitu, yang namanya perjudian akan selalu ada di Indonesia dan menjadi pekerjaan aparat kepolisian kita, khususnya Tramtib dan Satpol PP. Yah, karenanya mereka terus dibiarkan menyentuh game iblis tersebut. Semestinya anak-anak dilarang main poker. Bukankah masih banyak game di Facebook atau game online lainnya yang cocok dimainkan anak-anak?? Orang dewasa, terutama penjaga warnet harus bisa mengawasinya.

Selanjutnya, game Point Blank yang kita bahas. Seperti pada foto pertama. Saya agak keberatan bila anak-anak es-de dibiarkan main game tersebut. Terutama apabila ada yang bilang game tersebut untuk semua umur. Salah besar, kawan!

Ada alasan kuat kenapa saya melarangnya, yaitu saya merasa usia anak-anak tersebut yang para anak es-de tersebut masih rawan. Masih belum mengerti yang baik dan yang jahat. Mereka masih polos dan seputih kertas A4. Karena itulah mereka gampang sekali terpengaruh, baik secara trendstyle, lifestyle, ideologi, agama, dll, dsb. Mereka belum terlalu paham akan semuanya itu. Jadi apabila mereka dibiarkan terus melihat darah (Tau sendiri game-game macam Point Blank dan sejenisnya erat sekali dengan yang namanya darah!), mereka akan terbiasa dengan yang namanya darah, dan kekerasan. Hati nurani mereka akan semakin tertutup perlahan-lahan bila mereka terus dibiarkan bermain game-game tersebut.

Banyak kan berita-berita di koran, ada anak-anak yang melakukan hal-hal abnormal gara-gara pengaruh-pengaruh negatif tersebut??

Selain itu, saya juga rada kasihan dengan mereka. Hiburan untuk mereka di dalam kotak bernama televisi juga sedikit. Lagu-lagu yang diperdengarkan lagu untuk remaja dan dewasa, film-film atau acara-acara TV buat anak jarang, hingga bacaan-bacaan buat mereka saja harganya bisa buat buat makan semangkok bakso plus minum. Bayangkan harga majalah Donal Bebek sekarang Rp 10.000. Komik-komik juga diatas Rp 15000. Bacaan yang harganya sesuai uang saku mereka adalah Pos Kota, dan Lampu Hijau ( dulu Lampu Merah ). Ckckckckck!!!! Jadi ingin menangis melihat nasib anak-anak Indonesia sekarang ini, kawan. TOT

Padahal seperti yang kita tahu BUKU ADALAH JENDELA DUNIA, bukan?

Jadi atas dasar itulah, saya bangga dan sepenuhnya mendukung orang seperti Pungky yang menerbitkan buku untuk anak anak berjudul Peri-Peri Bersayap Pelangi. Buku itu merupakan kumpulan cerita yang terdiri dari 20 cerita dongeng terbaru dan kalian harus tahu buku ini di tulis 11 orang penulis Indonesia yang random. Penulis nya tidak berada pada satu tempat atau kota, mereka dari pelusuk negeri tercita kita ini.



Kalau tertarik, silakan buka link ini [ http://periperibersayappelangi.blogspot.com/]

atau kesini:

[http://galaksipungky.blogspot.com/2011/04/peri-peri-bersayap-pelangi-untuk-yang.html]

Ayo dibeli bukunya!!! Lumayan kan buat diberikan ke adik, atau anak kalian yang masih imut-imut. Hehehee...Kalau saya, nunggu supaya menang aja. Lumayan kan gratisan. Hehhehe.. :p  (Contoh jelek buat anak-anak

PS: Postingan ini didedikasikan untuk proyek amal yang dirintis oleh Pungky, dkk. Thank's for Peri-Peri Bersayap Pelangi. Buku ini dapat menjadi alternatif bacaan untuk anak-anak yang penuh imajinasi dan mendidik.

14 comments:

  1. lain ladang lain belalang.. lain halaman, tapi rumput gue lebih asik (?)

    ReplyDelete
  2. gua aja baru kenal internet kelas 6 sd. sekarang anak kelas 1 sd pun udah pada jago ngetik. hiks, jadi malu gue.

    ReplyDelete
  3. Nuel, elu rajin amat bikin postingan... busyeeet, lagi kenceng ya, hahahaha...

    ReplyDelete
  4. Saya baru kenal Internet pas smp. Waktu itu aja belum langsung kenal sama yang namanya mbah google. ahahaha

    Sekarang anak2 maen diwarnet udah kayak maen komputer dirumahnya. Gak kenal waktu ckckck *padahal saya klo di depan laptop jg ga kenal waktu hehehe

    ReplyDelete
  5. @ sukro: gw ga doyan bro sama rumput. makasi. :p

    @ ellious: hahaha..... obat galau, el... gw galau karna skripsi. :D

    @ eks + brian: yup bener banget. emang beda banget perbedaannya, :(

    ReplyDelete
  6. hauhauha, mungkin game online itu salah satu misi khusus dari Amerika buat menghancurkan anak bangsa kita, supaya negara kita ini gak bisa maju.. hmm *investigasi*

    ReplyDelete
  7. hahhaha..... lebay deh lu... PB kan buatan anak negeri lagi setau gw. :D

    ReplyDelete
  8. hey hey.. udah aku baca yaa. dan udah disetorin ke juri juga. hihi makasih udah ikutan. semoga menaaaang \(^o^)/

    ReplyDelete
  9. jaman aku kuliah aja, gak punya komputer sendiri loh...
    warnet juga mahalnya minta ampun, bikin bokek kantong mahasiswa kere kayak aku.

    iri sama anak anak jaman sekarang, yang benar benar bisa mengakses internet dengan mudahnya
    tapi sama dengan nuel, rasanya kasihan juga ya sama mereka....
    kecil kecil udah akrab sama internet, jadi matang sebelum waktunya tuh...

    ReplyDelete
  10. @ Pungky: makasi yah udah didaftarin sebagai pesertanya. hehhee... ^^

    @ elsa: masalahnya bukan internetnya. tapi bahaya dari penggunaan internet yang menghadang mereka. :(

    ReplyDelete
  11. Om lega.. Tulisanny bagus!
    Bersosialisasi jd langka di era anak jaman sekarang, individualisme dan ego mrk jd tnggi, nilai plus prmainan jaman dulu mngajak suatu interaksi sosial secara nyata! bukan sekadar sekotak layar. (jd emosi hehe)

    ReplyDelete
  12. Uh sorry salah nama yg punya, tp isiny bnr kok *senyum :p

    ReplyDelete
  13. ini siaapa yah? koq rada familiar yaaah? ini dewi mulya sari bukan?

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^